Pada artikel kali ini nemiky akan membahas mengenai struktur organisasi lean six sigma dan pelatihan lean six sigma secara singkat dan jelas bagi teman-teman semua.

Namun sebelum memulai ada baiknya teman-teman mengetahui terlebih dahulu apa itu itu lean six sigma yang bisa teman baca disini: Lean Adalah: Konsep Dasar, Bidang Penerapan Dan Prinsip Dasar

Struktur Organisasi Lean Six Sigma

Lean Six Sigma merupakan pendekatan top-down, bukan bottom-up sehingga membutuhkan struktur organisasi Lean Six Sigma secara formal. Setiap perusahaan bebas menentukan struktur organisasi Lean Six Sigma yang paling efektif sesuai situasi dan kondisi yang ada.

Namun, tim Lean Six Sigma seperti: Champion, Master Black Belt, Black Belt, dan Green Belt harus ditentukan secara jelas dan tegas.

Dewan Kepemimpinan Kualitas (Quality Council)

Dewan Kepemimpinan Kualitas , dikenal juga sebagai Dewan Kualitas (Quality Council), Komite Pengarah Lean Six Sigma, Senior Champions, atau berbagai nama lainnya merupakan orang-orang yang berada pada posisi manajemen puncak (top management) dari organisasi. Peranan dari orang-orang yang berada dalam posisi ini adalah:

  1. Menetapkan visi, peran, dan infrastruktur dari Lean Six Sigma
  2. Menciptakan Master Improvement Story dari organisasi.
  3. Memilih program-program spesifik Lean Six Sigma dan mengalokasikan sumber-sumber daya.
  4. Meninjau ulang secara periodik tentang kemajuan dari berbagai program Lean Six Sigma serta menawarkan ide-ide dan bantuan agar menghindarkan terjadinya overlapping pada program-program Lean Six Sigma.
  5. Berperan secara individual sebagai “Sponsor” dari proyek Lean Six Sigma.

Champions

Dewan Kualitas (Dewan Kepemimpinan Kualitas) yang terdiri atas pemimpin-pemimpin senior dalam organisasi atau sering disebut juga sebagai Senior Champions perlu memilih individu-individu yang akan berperan sebagai Champions bagi program-program Lean Six Sigma dalam bisnis spesifik dari organisasi yang mampu menjamin bahwa semua fungsi utama dalam organisasi itu memiliki keterkaitan pada Lean Six Sigma. Terdapat dua jenis Champions, yaitu:

  1. Deployment Champions, dan
  2. Project Champions.

Master Black Belts

Master Black Belts merupakan individu-individu yang dipilih oleh Champions untuk bertindak sebagai tenaga ahli atau konsultan dalam perusahaan untuk menumbuh kembangkan dan menyebarluaskan pengetahuan-pengetahuan strategis yang bersifat terobosan-terobosan Lean Six Sigma ke seluruh organisasi. Serupa dengan Champions, terdapat dua jenis Master Black Belts, yaitu:

  1. Deployment Master Black Belts, dan
  2. Project Master Black Belts.

Deployment Master Black Belts merupakan posisi strategis dengan orientasi teknis yang tinggi serta membutuhkan dedikasi peduli, yang pada umumnya ditempatkan pada tingkat unit bisnis.

Orang-orang ini bertanggung jawab untuk operasional Visi Lean Six Sigma perusahaan dalam bentuk teknis yang bersifat jangka panjang.

Black Belts

Nama Black Belts sendiri pertama kalinya dipergunakan oleh Mikel Harry (Bapak Six Sigma) yaitu pada pertengahan tahun 1980-an ketika melaksanakan pelatihan intensif pada Unisys Corporation di Salt Lake City, USA. Para peserta pelatihan dilatih secara intensif dalam hal solusi masalah statistikal. Secara umum, Black Belts bertanggung jawab untuk:

  1. Merangsang pemikiran Champion.
  2. Mengidentifikasikan hambatan-hambatan yang ada dalam proyek Lean Six Sigma.
  3. Memimpin dan mengarahkan tim dalam mengeksekusi proyek Lean Six Sigma.
  4. Melaporkan kemajuan-kemajuan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
  5. Membantu Champions apabila diperlukan.

Green Belts

Lean Six Sigma Green Belts merupakan sebuah individu yang bekerja sebagai paruh waktu (part-time) dalam lingkup area spesifik ataupun mengambil tanggung jawab pada proyek-proyek kecil dalam lingkup proyek Lean Six Sigma yang ditangani oleh Black Belts. Secara umum Green Belts memiliki tanggung jawab untuk:

  1. Berpartisipasi pada proyek Lean Six Sigma yang ditangani oleh Black Belts dalam konteks tanggung jawab yang telah ada pada mereka.
  2. Mempelajari metodologi Lean Six Sigma untuk dapat diaplikasikan pada proyek-proyek tertentu berskala kecil yang akan ditangani oleh mereka.
  3. Melanjutkan mempelajari dan mempraktikkan metode-metode dan alat-alat Lean Six Sigma setelah proyek Lean Six Sigma itu berakhir.

Project Team Members

Anggota-anggota tim proyek Lean Six Sigma harus menerima pelatihan dasar tentang metode-metode dan alat-alat Lean Six Sigma agar mereka mampu menerapkan dalam proyek-proyek spesifik atau proses-proses pendukung yang melintasi fungsi (lintas-fungsi) dalam organisasi.

Di bawah petunjuk dari Black Belts, para anggota dari tim proyek Lean Six Sigma bisa mengumpulkan dan juga menganalisis data, juga bisa membantu mempertahankan hasil-hasil yang telah dicapai melalui proyek Lean Six Sigma tersebut.

Anggota-anggota tim proyek Lean Six Sigma dapat bekerja penuh waktu (full-time) atau paruh waktu (part-time ) tergantung kebutuhan dari proyek Lean Six Sigma dan dapat memberikan keahlian pada area yang terlibat dalam proses baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pelatihan tentang Lean Six Sigma

Tim fungsional silang yang terlibat dalam implementasi program-program Lean Six Sigma harus memperoleh pelatihan yang cukup dan sesuai agar memahami secara baik tentang pendekatan Lean Six Sigma Enterprise System itu.

Di sini dibutuhkan dukungan manajemen puncak untuk memberikan komitmen sumber daya dalam pengembangan pelatihan Lean Six Sigma. Pelatihan Lean Six Sigma Enterprise System harus memenuhi beberapa persyaratan berikut:

  1. Materi pelajaran Lean Six Sigma Enterprise System harus merupakan hasil-hasil pembelajaran nyata yang dikumpulkan dari dalam organisasi itu. Secara ideal harus dibahas tentang metode-metode dan alat-alat Lean Six Sigma yang diterapkan dalam, dan dibutuhkan oleh, proses proses value stream dari produk atau kelompok produk (product family), proyek-proyek Lean Six Sigma, dan peningkatan terus-menerus.
  2. Memberikan contoh-contoh yang relevan dan terkait dengan dunia nyata. Secara umum, pelatihan Lean Six Sigma untuk organisasi jasa perlu menggunakan contoh-contoh aktual dalam proses-proses value stream dari jasa yang terkait, sedangkan pelatihan Lean Six Sigma untuk organisasi manufaktur belajar dari pengalaman pengalaman implementasi proyek-proyek Lean Six Sigma yang terkait di lantai pabrik.
  3. Menggunakan bermacam gaya dan teknik dalam pelatihan yang menggunakan kombinasi berbagai teknik seperti: tatap muka, permainan (games), latihan-latihan (exercises), dan lain-lain.
  4. Membuat pelatihan menjadi sesuatu yang lebih daripada sekadar mengetahui tentang Lean Six Sigma Enterprise System. Penekanan penekanan terhadap pesan-pesan tertentu yang bersifat memotivasi peserta pelatihan harus diberikan.