Dalam Lean Six Sigma terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab kegagalan, dan pada postingan berikut saya akan membahas mengenai Faktor-Faktor Kegagalan Lean Six Sigma.

Faktor-Faktor Kegagalan Lean Six Sigma

sebagai bahan pertimbangan kepada manajemen organisasi untuk mencegah terjadi kegagalan implementasi Lean Six Sigma, perhatikan faktor-faktor penyebab kegagalan berikut. Mungkin salah satu atau beberapa faktor itu ditemukan dalam organisasi Anda.

  1. Ketiadaan sponsor dari pemimpin-pemimpin senior
  2. Ketidakselarasan terhadap strategi organisasi yang jelas
  3. Ketiadaan upaya penelusuran kemajuan dan pertanggungjawaban
  4. Kegagalan mengaitkan proyek-proyek terhadap dampak pada bottom line perusahaan (keuntungan, pangsa pasar, dll)
  5. Ketidakcukupan atau inefektivitas dari pengalokasian sumber-sumber daya manusia
  6. Terlalu menekankan pada pendekatan kaku dan alat-alat teknis statistika

Berdasarkan pengalaman penulis yang sering memberikan pelatihan maupun konsultansi tentang Lean Six Sigma, kegagalan utama dari implementasi program-program Lean Six Sigma di Indonesia adalah karena poin 1 dan 2 di atas.

Sedangkan para BELTS (Master Black Belts, Black Belts, Green Belts) hanya menekankan pada poin 6, tanpa memandang apakah proyek-proyek Lean Six Sigma itu terkait dengan bottom-line perusahaan (poin 4).

Berdasarkan studi pustaka yang dilakukan oleh beberapa penulis, paling sedikit terdapat 15 faktor kegagalan dalam implementasi sistem manajemen kinerja, termasuk Lean Six Sigma, yaitu:

  1. Ketiadaan komitmen dari manajemen puncak.
  2. Ketiadaan pengetahuan atau kekurangpahaman tentang sistem manajemen kinerja.
  3. Ketidakmampuan mengubah kultur perusahaan.
  4. Ketidaktepatan perencanaan sistem manajemen yang tercantum dalam Corporate Master Improvement Story.
  5. Ketiadaan pendidikan dan pelatihan berkelanjutan (terus-menerus).
  6. Ketidakmampuan dalam membangun sebuah learning organization yang memberikan perbaikan secara terus-menerus
  7. Ketidakcocokan struktur organisasi serta departemen dan individu yang terisolasi
  8. Ketidakcukupan sumber daya.
  9. Ketidaktepatan sebuah sistem penghargaan dan juga balas jasa pada karyawan.
  10. Ketidaktepatan mengadopsi prinsip-prinsip sistem manajemen kinerja ke dalam organisasi.
  11. Inefektivitas teknik-teknik pengukuran dan ketiadaan akses ke data dan hasil-hasil.
  12. Berfokus jangka pendek dan menginginkan hasil yang cepat.
  13. Ketidaktepatan dalam memberikan perhatian pada pelanggan internal dan eksternal.
  14. Ketidakcocokan kondisi untuk implementasi sistem manajemen kinerja.
  15. Ketidaktepatan menggunakan pemberdayaan (empowerment) dan kerja sama (teamwork).

Kegagalan Implementasi Proyek Lean Six Sigma

Swayne (2003) mengidentifikasi beberapa kegagalan implementasi proyek Lean Six Sigma yang terjadi dalam setiap tahap DMAIC sebagai berikut:

Define

  • Definisi lingkup dan kebutuhan proyek yang tidak tepat dan tidak terintegrasi dengan kebutuhan nyata dari bisnis.
  • Kesalahan mengidentifikasi proyek yang tepat.
  • Kesalahan dalam desain kuesioner (questionnaire) dan penerapan statistika pada riset pelanggan.
  • Kesalahan dalam penetapan sasaran dan tujuan yang tepat.

Measure

  • Ketiadaan indikator-indikator kinerja kunci (KPIs) yang tepat.
  • Memiliki alat-alat pengukuran yang jelek.
  • Pengumpulan data yang tidak efisien dan tidak tepat.
  • Kecepatan eksekusi yang lambat .

Analyze

  • Kesalahan dalam mengembangkan hipotesis kausal (sebab-akibat).
  • Kegagalan mengidentifikasi pengendali kunci (key drivers).
  • Penggunaan alat-alat statistika yang terlalu berlebihan dan seolah olah hanya berfokus pada penerapan alat-alat statistika tersebut tanpa memedulikan efektivitas dan efisiensi dalam solusi masalah-masalah bisnis yang nyata.
  • Ketiadaan pengetahuan bisnis praktis.
  • Kegagalan mengidentifikasi praktik-praktik bisnis terbaik.

Improve

  • Ketiadaan dukungan manajemen terhadap sistem.
  • Kegagalan dalam mengembangkan berbagai ide untuk menghilangkan seluruh akar penyebab masalah dalam bisnis.
  • Kegagalan dalam implementasi solusi-solusi masalah bisnis.

Control

  • Kegagalan dalam tindak lanjut (follow-up) oleh manajer-manajer dan pemilik proses, yaitu mereka yang bertanggung jawab terhadap kinerja dari proses-proses bisnis.
  • Ketiadaan mekanisme umpan balik menerima atau mendengarkan suara pelanggan (voice of customer) secara terus-menerus.
  • Ketiadaan institusionalisasi dari sebuah pemikiran ataupun juga pemahaman terhadap peningkatan kinerja bisnis secara terus-menerus.